Things Left Unspoken

Cups (When I’m gone) by Lulu and The Lampshades :)

Him: Sekarang mau dikemanakan?
Her: Look! Aku ngga minta jawaban. Aku ngga minta status atau kejelasan. Aku ngga minta hubungan. Buat apa pasangan kalo cuman buat temen telfonan atau jalan. Buat apa kalo cuman jadi antar jemput. Aku masih bisa sendiri, seenggaknya sampe detik ini. Yang aku butuh cuman pelengkap. Cuman dua bahu buat bersandar. Cuman dua telinga buat mendengar. Cuman dua bola mata yang keliatan antusias kalo aku lagi cerita panjang lebar.
Him: Tapi ini udah 8 bulan, kenapa kamu masih bertahan?
Her: Kita ngga lagi main kuat-kuatan kan? Ini bukan soal berapa bulan, bukan perkara waktu atau hitungan jam. Dari awal aku ngerasa ada yang beda, dan aku gatau itu apa. Pernah ngerasa “Kayaknya ini orangnya..” tanpa tau siapa dan kaya gimana dia sebelumnya? 8 bulan ini panjang. Cuman dari percakapan di jejaring sosial sampe akhirnya kita bisa duduk hadep-hadepan gini kadang susah dinalar. Kita pasang surut. Kita naik turun. Tapi emang ngga semua dalam hidup harus dikejar kan? Kadang pun susah cuman buat nyapa dan bilang apa kabar, padahal baru kemarin kita barengan. Terserah kamu mau bilang sok atau jual mahal. Tapi buat aku proses didekatkan dan dijauhkan ini yang terus ngasih aku kejutan. Aku seneng kita dipertemukan di banyak kebetulan. Berasa takdir, berasa ada Dia yang ikut andil. Emang sih, kadang aku tanya ke diri sendiri “Apa yang sebenernya aku cari?” tapi jawabannya nihil. Ada yang ngga bisa aku jelasin jauh di dalem sini. Aku cuman belum siap berhenti...
Him: Terus sekarang?
Her: Sekarang aku serahin semua sama hati. Biar dia sendiri yang nentuin kapan harus menyerah dan berhenti. Kamu bebas. Aku ngga pernah nentuin kapan kamu harus tinggal atau pergi. Tapi tiap kamu butuh aku ada di sini. Aku cuman pengen semuanya ngalir, tanpa harus nentuin akhir..
Mereka dan percakapan menjelang petang. Camomile tea dan kopi hitam. Pahit manis yang menanti penyatuan.

It’s Friday, I’m in Love by The Cure :)

Ed Sheeran - Lego House

Thinking ‘bout you - Frank Ocean (covered by Fifth Harmony)

Dewi Masita Mukti Nastiti | Everything happens for a reason.

Sekali lagi, pikiran ini berjalan dengan liar untuk sekian kalinya. Semua berjalan karena suatu alasan, kan?

Kak, pernah nggak kakak tahu tentang sebuah roda? Suatu benda yang nggak punya sisi, nggak punya sudut, tapi punya sumbu simetri tak terhingga yang membuatnya bergerak dengan leluasa. Dia berputar. Sebut saja masing-masing orang berada di sekeliling roda tersebut, sedangkan roda ini nggak sedang diam, roda itu berputar. Mungkin saat si A sedang di atas, si K sedang dibawah, dan si W bukan apa-apa karena berada di tengah-tengah.

Saya nggak bilang kok kalo saat ini kakak sedang berada di atas. Saya juga nggak bilang kalo saat ini kakak sedang berada di bawah, apalagi tengah-tengah. Yang tahu hanya kakak dan Yang Maha Tahu. Orang lain punya banyak pandangan berbeda-beda tentang kakak. Ada yang pro, dan pasti ada yang kontra, juga ada yang cuek nggak peduli lagi di tengah-tengah.

Everything happens for a reason. Semua berjalan untuk suatu alasan. Nama saya Dewi Masita Mukti Nastiti. Sejak lahir saya dikenal sebagai Sita, walaupun mulai kelas 2 SD sudah dipanggil Dewi karena itu nama depan saya. Tapi tetap, saat itu pribadi saya masih polos, masih cupu dan malu-malu, masih kritis, rajin, disiplin, masih bisa dibilang pandai, masih bisa dikenal sebagai seorang Sita. Pribadi yang sangat introvert. Begitu sampai di jenjang SMA, saya mulai menjadi Dewi. Jelaaas, karena orang bilang SMA itu jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya, lebih banyak pelajaran yang akan kudapat. Bukan SMA-nya yang salah, karena memang sedikit perubahan kecil itu perlu dicoba. Dan mungkin belajar dua tahun di SMA bukan suatu hal yang menyenangkan, hal itu membuat sosok Dewi makin menjadi. Mungkin karena pressure yang didapat. Bukan menjadi bagian anggota kelas yang cupu karena berisikan siswa-siswi superior, tidak. Salah besar. Pressure ini membuat kami gila, berani berontak, dan menjadikan jiwa SMA kami semakin menjadi. Sosok Dewi terbawa hingga empat semester di perkuliahan, di kampus lebih tepatnya. Dewi yang nggak karuan, berantakan, galau, pecicilan, nggak tahu malu, dan bisa dibilang blak-blakan, namun masih tetap kritis memaparkan fakta dalam kalimat yang agak nyelekit. Sisi ekstrovert mulai terpupuk liar.

Namun sayang. Mereka hanya mengetahui seorang Dewi Masita Mukti Nastiti sebagai seorang Dewi. Bukan mengenal sebagai dua sosok yang ada, yaitu Dewi dan Sita. Mungkin hanya segelintir orang yang sudah kenal dan sadar bahwa ada sosok Sita di dalam seorang Dewi. Bahkan ada beberapa ‘strangers’ yang langsung mengenalnya sebagai seorang Sita. Hebat, bukan?

Temanku pernah bilang, “Di dalem dirimu ini ada dua sisi yang selalu bertengkar. Kamu C, sisi D dan S mu masih terus tengkar. Sedangkan I, dia hanya topengmu.”

Apa iya saya harus tegasin siapa yang harus menang antara D dan S? Atau saya hanya harus bisa mengontrolnya?

Underestimating. Di saat Sita akan dikeluarkan lagi sosoknya, Dewi berusaha menyenggolnya, menguburnya, bahkan mungkin akan mencabutnya lepas hingga ke akar. Otak ini berpikir lagi kemudian setelah kekecewaan yang berkepanjangan karena gagalnya mengeluarkan pribadi lama yang dirindukan. Orang-orang sudah terlanjur mengetahui seorang Dewi, dan meng-underestimate dirinya sehingga Sita pun pasti nggak akan ada nilainya. Introvert memang susah menang, kalah dalam bersuara yang tidak seperti apa yang Ekstrovert punya. Namun lama-kelamaan saya sadar. Everything happens for a reason. Saya mungkin memang harus jadi Dewi dulu untuk beberapa waktu ini, mengingat mungkin baru empat tahun dialami. Mungkin memang harus jadi sosok ini, menyelesaikan masalah-masalah absurd tak terungkap, masalah-masalah kehidupan yang unspoken, menyelesaikan segala urusan yang hanya bisa diselesaikan oleh sosok Dewi yang seorang Sita nggak punya sama sekali. Saya harus bisa mengontrol mereka. D dan S. Kebetulan sekali D untuk ‘Dewi’ dan S untuk ‘Sita’. Cocok. Dan untuk sementara ini:

Ekstrovert » Introvert.

Balik lagi ke persoalan roda. Posisi roda kakak sudah terbaca. Kakak segera resapi dulu ya, orang lain sudah bisa membaca loh kak. Sebelum ada sosok wanita yang membukanya terlebih dahulu, coba kakak dulu saja yang mem-floor-kan. Kakak tahu? Wanita adalah makhluk sensitif, kak. Ada yang janggal sedikit pun mereka pasti tahu dan merasa ada yang tidak beres. Wanita adalah seorang detektif, a fact seeker, hidup dalam rangkaian hipotesa-hipotesa yang akan terbukti tepat mereka benarkan pada akhirnya. Itu saja kok, kak. Adek hanya berpesan, hehehe :)

Apakah salah seorang adek memberi pesan demi kebaikan kakaknya? ;)

Mungkin ini tulisan adek yang terakhir, kak. Adek tetep akan menginspirasi lewat tulisan kok, tapi mungkin nggak lewat sini. Tumblr ini sudah pengen pensiun, capek sudah 50 halaman lebih dengan berisikan kalimat-kalimat nggak penting. Sini datang kemari, bicara langsung bareng-bareng. Adek lebih seneng begitu kok, sudah bosan lewat tulisan. Tulisan kadang hanya bikin adek sesak, kak. Si bronkus sudah lelah vasokonstriksi-nya. Adek lelah, kak. Adek harap pesan ini nyampe ke kakak. Terima kasih banyak :)

100513

Wassalam,

adek kecil yang masih perlu banyak belajar di sini.

Another convers with a friend

Anandita: “Udah pernah baca ini, wik?”

Aku: “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin? Sudaah. Bikin nyesek tapi apiiik.”

Anandita: “Sudah baca Sunset bersama Rosie?”

Aku: “Beluum. Bagus?”

Anandita: “Baaangeet.”

Aku: “Jangan-jangan lebih nyesek?”

Anandita: “Iyaa. Menyimpan perasaan lebih dari 20 tahun. Keren.”

Aku: “Hmm. No, no. In real life, it won’t happen. Yang ada, bakal mati kena stress Cardiomyopathy.”

*batinku liar: kalo punya perasaan, ya bilang. Apa salahnya jujur dan nggak membohongi diri sendiri? Terus terang lah. Iya kalo dalam 20 tahun kau masih diberi kesempatan untuk bernafas, lha kalo bahkan kurang dari 5 tahun kau nggak bisa bernafas lagi, gimana? Wallahu alam. Nggak ada yang tau, kan? Nggak perlu jadi misterius, ada kok Yang Maha Misterius :’)

 

*sorry, just saying. no offense ;)

If their statement about every drop of women’s tears caused by men could bring them to hell was truth, well then I would cry you a river
9gag:

Good news

9gag:

Good news

Sifat laki-laki haruslah secara laki-laki sejati, jangan ia minta dituntun, melainkan dialah yang akan menuntun

 | Pertemuan Djodoh - Abdoel Moeis

(via kurniawangunadi)

Bukan karena pemimpin
D : kamu ya...
A : enggak..enggak...kamu lebih mengerti segalanya...kamu ajah
D : aku mengerti karena aku sekretaris...aku selalu mencatat nya...(dan satu hal yang mungkin kamu perlu tau...perempuan itu berusaha menyelesaikan setiap hal secepatnya bukan karena semua rasa kepemimpinan yg ia miliki...tapi karena perempuan tidak suka dengan apa yang namanya berantakan)
beautifulquote:

Beautiful Quotes

beautifulquote:

Beautiful Quotes